Rabu, 09 November 2011

*SENI RUPA SUMATRA UTARA*


                   *SENI RUPA SUMATRA UTARA*      
Medan Seni Sumatera Utara

Karya Heri Dono judul Garuda Extra Terrestrial media Cat minyak diatas kanvas
Oleh : Sumargi Gunarto. Menurut S. Sudjoyono, lukisan adalah jiwa yang nampak. Bapak seni lukis modern Indonesia ini, mendefinisikan puisi kavas yang diartikulasikan dengan bahasa visual yang jelas. Dia tertuang melalui ungkapan pikiran dan emosi-emosi dengan garis bentuk dan warna.
Tolstoy juga berpendapat: "Selalu dan dalam setiap periode pada setiap masyarakat manusia terdapat suatu kesadaran religius yang sama bagi semua anggota masyarakat tentang apa yang baik dan buruk. Kesadaran religius ini menentukan nilai emosi yang di sampaikan oleh seni". Saya menyimpulkan, seniman itu wakil bagi zamannya.
Dalam kretifitas senirupa di Sumatera Utara, saya melihat dan mendengar kecenderungan yang terjadi. Senirupa mengarah kepada materealisme. Sebuah kecenderungan dalam melukis dengan keinginan lukisan-lukisannya segera terjual. Akibatnya melukis hanya memenuhi selera pasar atau art shop. Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak. Itulah pilihan dalam bersikap dan bila ada pelukis memilih karya yang jauh dari kecenderungan seperti saya sebutkan tadi juga bukan hal yang salah.
Demi persoalan hidup, segalanya bisa dihalalkan untuk menjadi jalan keluar bagi persoalan itu sendiri. Geliat suasana berkesenian Sumatera Utara yang lemah gemulai bagai tarian musik Dolorosa, seperti inikah wajah senirupa Sumatera Utara? Tentu saja tidak. Karena tersembunyi dan diam- diam, ada saja pelukis yang berusaha melukis sesuai dengan kenginan hatinya (berkreatifitas) tanpa terpengaruh pada pola pasar. Terus harus berusaha untuk bertahan dengan cara apa saja (kerja apa saja). Untuk bisa bertahan melukis sampai saat karya-karya mendapat tempat di masyarakatnya, tetapi sangat jauh dari para pedagang karya seni bahkan tidak mendapat tempat sama sekali, dengan alasan kurang mengerti karya-karya mereka. Ada lagi persoalan lain pada porsi yang lain pula.
Kalender kegiatan pameran yang tidak terjadwal dan terencana dengan baik. di tambah gedung tempat senirupa dipamerkan sunyi. Yang baru di pugar nampak lebih indah, asri, tapi sunyi para perupa. Berpura-pura hal seperti itu biasa, tapi memang biasanya seperti itu!
Para pengurus sibuk dengan jadwal pameran di galerinya masing-masing atau sibuk dengan proyeknya. Para pemerhati seni tentu cukup memaklumi. Dengan tetap menjaga gedung tempat para perupa berpameran berwibawa dan sunyi, dengan suasana yang sakral itu pulalah yang diharapkan oleh pemilik galeri-galeri besar untuk tetap sunyi agar tidak terlihat siapa-siapa pelukis Sumatera Utara ini.
Kalau gedung tentu tak salah, sebab dia hanya benda mati yang tak berfikir dan memiliki rasa.
Salahkah pelukis - Tak dapat diputuskan, karena pelukis butuh udara untuk bernafas. Menghirup wanginya parfum dari perempuan yang dicintainya serta anak-anak yang dilahirkan dan ada yang peluk kecup perempuan yang ditinggalkan. Kalau merayu nurani spiritual berduka lalu siapa sebenarnya pelaku budaya? Ini pun kembali dipertanyakan lagi, tetapi hal itu memang ada itu sudah pasti, jangan juga segera menyimpulkan negatif.
Dengan nyanyian irama Dolorosa, kita tetap berusaha membangun apa yang sudah dilakukan maestro senirupa Sudjoyono dari Kisaran. Mengasah terus ide dan kreatifitas, itulah intinya. Kolektor pemilik galeri dan peminat lukisan menjadi tonggak penyokong bagi perkembangan senirupa, itu tak bisa di pungkiri.
Peminat lukisan perlu di ingatkan, keinginan mereka yang diperturutkan akan menjadi racun bagi ranah dunia senirupa. Membunuh kretifitas, pembodohan intelektual secara sengaja atau tidak disengaja yang direncanakan maupun tidak direncanakan.
Kegilaan mengoleksi karya pelukis yang telah meninggal dunia merupakan pesoalan gaya baru penikmat seni yang aneh. Aneh ketika hidup untuk mendukung kinerja berkarya mereka, tak mau membelinya, namun ketika pelukis telah menamatkan diri dalan berkarya (mati) baru dibeli dan diburu.
Hal ini juga tak bisa dipersalahkan, namun etika bisnis atau apapun, namanya sebagai kolektor tentu tidak baik bagi perkembangan dunia senirupa "masak nunggu mati dulu pelukisnya, baru karyanya dibeli".
Kembali ke senirupa Sumatera Utara. Senirupa itu bebas. Kita sepakat menerimanya. Senirupa adalah jiwa yang nampak, kita juga sepakat. Senirupa Sumatera Utara adalah senirupa materialistis, seperti itulah kenyataannya. Bukan kreatifitas kekinian, namun rekreasi aktifitas. Kalau kita melihat dan mendengar irama Dolorosa, itulah sesungguhnya yang terdengar sedih yang tak terlihat, pilu tak terkangkap rasa. Ini medan bung, hanya slogan yang hampir berlalu, namun yang pasti inilah medan seni Sumatera Utara.
Bila suatu saat kita bertemu pelukis religius, itu juga ada dasarnya. Begitulah pada dasarnya, seperti pemikiran Tolstoy jika seniman tak sampai berkomtemplasi dengan jiwanya, kita juga maklum. Jangan paksa mereka untuk kesana, pasti muntah. Kalau sudah sampai kesana, jadilah lebih arif dan bijaksana. Kalau baru tingkat wacana ya berusahalah sampai ketingkat kenyataannya.
Ada karya yang bagus? Tentu ada. Misalnya penggarapannya, tehniknya, komposisinya. Kalau ada orang melihat karya dengan kesimpulan sentuhan estetika sesaat, ya jangan meradang karena pengetahuan dan emosinya baru sampai segitu mikir sendirilah.
Namanya cerita tentang jiwa-jiwa yang di visualkan. Puisi kanvas ini, kan nyambung dengan roh. Jadi tidak dapat dipisah dengan yang punya roh, kan? Aneh juga kalau kita enggak membicarakan sorga dan neraka bahagia atau sengsara.
Jika masih diperjalanan juga, kan tidak dilarang. Namanya sedang mencari. Kadang tersesat, itu manusiawi. Kalau terus-terusan tersesat, itu namanya keledai. Kalau melukis sambil narik becak, kenapa rupanya?
Kalau bikin institusi, terus dapat dana dari intansi, lalu bikin kegiatan untuk kemajuan sesuatu bagi masyarakat, ini kan bagus. Lebih jelek kalau bikin kegiatan untuk memperkaya diri, ini baru bedebah namanya.
Kadang kita melihat ketidaksesuaian dengan apa yang kita yakini, namun kita harus dapat memaklumi. Lebih baik kita bertindak arif toh? Tuhan masih akan memberi kita limpahan kasih. Walau kita cuma memikirkan diri sendiri dan yang lebih gila walau kita merugikan orang lain, Tuhan juga masih berbaik hati memberi kita rejeki.
Kalau ada sesama pelukis bertanya, kemana kalian memasarkan lukisan kalian, karena kebetulan yang ditanya lukisannya payah laku, sementara yang bertanya lukisannya laris manis kok sepertinya Tuhan sudah mati. Berbaik sangka sajalah kita. Syukur-syukur niatnya mau memasarkan lukisan, kawan yang payah laku. Kalau sudah ditentukan dengan syarat begini-begitu apa sih maksudnya.
Memangnya pelukis pabrik pemuas syahwat orang lain, padahal senirupa itu jiwa yang nampak. Begitulah… lihat dong karyanya, jangan cerita pasar melulu. Memangnya mau pekanan (tempat pajak jualan kebutuhan hidup masyarakat kecil).
Lihat karyanya, biarkan dia dengan gayanya mudah-mudahan ada yang berminat dengan gayanya. Ini kerja budaya bukan pabrik barang konsumsi! Semakin anehkan?! Begitulah medan senilukis Sumatera Utara.
Pantas saja payah berkembang, karena bidang litbang (penelitian dan perkembangan) selalu diplesetkan artinya menjadi sulit berkembang. Yah beginilah jadinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar